Main Article Content

Maita Sarah

Abstract

Prison is a place where their environment can make stressfull for prisoners. The environment always make prisoners stress is uncontrolled prisoners behavior, undisipliner, make some fighting among prisoners, uncomfortable prison phisically, narrow room due to overcapacity. Knitting activities was assume can decrease stress level for woman prisoners. This research uses quantitative method with quasy experiment approach. This research was collected in women prisons class II-a Medan. Population of this research were 535 respondents and samples obtained 84 respondents divide two group with each group 42 respondents. Data analysis with univariate show as frequency distribution of tables and bivariate analysis with independent sample t-test. The results showed that 61.9% stres levels by intervention group was mild, and 38.1% stres levels by intervention group was moderate. 52.4% stres levels by control group was severe, and 47.6% stres levels by intervention group was moderate. It was concluded that any influence between knitting activities towards decrease stress level with significant value (0.000<0.05) and t-value (-8.015) > t-table (1.761). Recommendation for head of women prisons to provide knitting as a activities for reduce prisoners stress. Outcomes of the knitting activities can be sale in society market.


 


Keywords: Knitting activities, decrease of stress  


 


Abstrak: Lapas atau rutan adalah suatu tempat dimana lingkungannya dapat membuat stres para penghuninya. Lingkungan yang sering membuat stres para penghuni adalah perilaku tahanan yang sulit diatur, tidak disiplin, sering berkelahi antar sesama tahanan, lingkungan fisik Lapas yang dianggap tidak nyaman, ruangan yang sempit karena kelebihan kapasitas. Kegiatan mengkait/merajut diduga dapat menurunkan tingkat stres narapidana wanita. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasy experiment). Penelitian dilakukan di Lapas wanita Klas II-A Medan. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 535 orang dan sampel diperoleh 84 orang yang dibagi dalam 2 kelompok dengan jumlah masing-masing kelompok 42 orang. Data dianalisis secara univariat yang disajikan dalam tabel distribusi frekuensi dan analisis bivariat dengan uji independent sample t test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat stres kelompok intervensi sebagian besar ringan (61,9%), dan stres sedang (38,1%). Tingkat stres kelompok kontrol sebagian besar berat (52,4%), dan stres sedang (47,6%). Terdapat pengaruh kegiatan mengkait/merajut terhadap penurunan tingkat stres dengan nilai signifikan (0,000 < 0,05) dan nilai t-hitung (-8,015) > t-tabel (1,761). Disarankan kepada pimpinan Lapas Wanita  untuk rutin mengadakan kegiatan mengkait/merajut sebagai kegiatan untuk menurunkan stres narapidana di dalam lapas. Hasil dari kegiatan merajut dapat dipasarkan di luar lapas.


 


Kata Kunci : Kegiatan Mengkait/Merajut, Penurunan Stres

Article Details

How to Cite
Sarah, M. (2019). Pengaruh Kegiatan Mengkait/Merajut Terhadap Penurunan Tingkat Stres Di Lapas Wanita Klas II-A Medan: Pengaruh Kegiatan Mengkait/Merajut Terhadap Penurunan Tingkat Stres Di Lapas Wanita Klas II-A Medan. Journal of Midwifery and Nursing, 1(2), 30-34. Retrieved from http://iocscience.org/ejournal/index.php/JMN/article/view/55
References
[1] Balai Pustaka. (2013). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cetakan Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka
[2] Hamilton, A. (2012). The Power of Stress. Menciptakan Stres di Tempat Kerja. Cetakan Pertama. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.
[3] Harsono. (2013). Sistem Baru Pembinaan Narapidana. Cetakan Pertama. Jakarta: Djambatan
[4] Kemenkes RI dan Kementerian Kehakiman RI. (2013). Manual Pelayanan Kesehatan di Rutan/Lapas. Jakarta: Departemen Kesehatan RI dan Departemen Kehakiman RI.
[5] Kemenkumham RI. (2015). Strategi Pembinaan Pelanggar Hukum Dalam Konteks Penegakan Hukum Di Indonesia. Jakarta: Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.
[6] Mumpuni Y., & Wulandari, A. (2014). Cara Jitu Mengatasi Stres. Cetakan Keenam. Edisi I. Yogyakarta: Andi.
[7] Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi, Jakarta : Rineka Cipta.
[8] Novianto, P. (2014). Dinamika konsep diri pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Sragen. Sragen : UMS.
[9] Rasmun, R., (2014). Stress, Koping Dan Adaptasi, Edisi 1. Cetakan Pertama, Jakarta : Sagung Seto.
[10] Ristiana. (2014). 4 Manfaat Tidak Terduga Dari Merajut. Tersedia di: https://www.dokter.id/berita/4-manfaat-tidak-terduga-dari-merajut diakses tanggal 5 Nopember 2016.
[11] Saryono, & Anggraeni, M.D. (2013). Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dalam Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.
[12] Shenisa. (2015). Merajut Membantu Menekan Stres Bagi Tahanan Perempuan Di Amerika Serikat. Diperoleh dari: www.shenisa.com/2014/11/merajut-membantu-menekan-stres-bagi.html diakses tanggal 5 Nopember 2016.
[13] Surbakti, E.S. (2011). Stres Kerja Pada Pegawai di Rutan Klas II-B Labuhan Deli 2011. Tesis Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara.
[14] Susanti, A. (2013). Merajut Terapi Jiwa?. Diperoleh dari: www.belajarcara-merajut.com/merajut-terapi-jiwa.html diakses tanggal 5 Nopember 2016.
[15] Usman, S. (2010). Pengaruh nilai kerja terhadap stress tahanan negara: Studi pada rumah tahanan negara kelas IIB Rangkasbitung. Jakarta: Universitas Indonesia.
[16] Utari, D.I. (2012). Gambaran Tingkat Kecemasan Pada Warga Binaan Wanita Menjelang Bebas Di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas Ii A Bandung. Bandung: Universitas Padjajaran.
[17] Widyastuti, P. (2014). Stress Management. National Safety Council. Cetakan I. Jakarta: EGC